Selasa, 11 Februari 2014
Ommo Hélem : Kéré Tapi Kécé
Kemarin-kemarin : sakit kepala !, pusing-pusing, begitulah keluhan Wak Ommo Tikus dari hari ke harinya. Keruan saja, Pak Singa bingung blangsatan.
Ia takut bin khawatir Wak Ommo mogok !, mangkir!, tak mau mengambil sampah di Kampung Utan lagi. Waduh, siapa yang nanti ‘kan menggantikannya ? Petugas sampah sulit dicari di Kampung Utan. Nampaknya warga lebih suka membuang sampah daripada membersihkannya.
Karena keluhan Wak Ommo jadi, semakin jadi, Pak Singa semakin rungsing, pusing dibuatnya. Diobati dengan obat bebas dari kios, toserba bahkan apotik, duh, “Aduh !”, pusingnya “Tak hilang-hilang !”, katanya.
Dibawa ke dokter ? Duh, pusingnya, jadi !, semakin menjadi-jadi !, “Takut disuntik !”, katanya. Dibawa ke dukun ? Waduh, pusingnya, jadi !, terus menjadi-jadi !, karena disembur rerempahan : “Bau !”, katanya, Wak Ommo mabok-kleyengan, “Dingin !”, tambahnya, ia meriang-gemetaran.
Lha, pakai apa lagi dong ?
Pak Singa bingung, Wak Ommo lebih bingung, Pak Singa pusing, Wak Ommo lebih pusing. Hampir-hampir putus asa, eh, suatu hari Wak Ommo malah mengikat kepalanya. Betul !, dengan bandana !, pinjaman dari pengojek disekitar rumahnya. “Ademan !”, katanya, “Tak begitu pusing lagi !”, tambahnya.
Hah ?
Hah ?, semakin hah ?, ketika besok-besoknya Wak Ommo mengganti bandananya dengan hélem di kepalanya !, betul !, topi pelindung para pengojek, ketika ngider, ngepot di jalan raya. “Enak !”, katanya. “Pusingnya hilang !”, tambahnya.
Betul !, sejak hari itu, bahkan sampai sekarang Wak Ommo selalu memakai hélem ketika berburu sampah dimana-mana, kemana-mana di Kampung Utan. Ia riang, girang, cekatan bergerak, bahkan berlari, melompat ! dengan hélem di kepalanya.
Keriangan Wak Ommo menjadi bahan pembicaraan di Kampung Utan. Warga senang, sekaligus geli melihatnya. Mereka jadi gemar membelikan hélem buatnya. Betul !, yang beragam merek, warna, maupun modelnya.
“Hélem pembalap !”, kata Wak Ommo itulah yang paling disukainya, paling diimpikannya. “Waduh !”, ketika ia mendapatkannya dari bung Momon, montir tikus, ia langsung memakainya, lalu menempelkan stiker bertuliskan namanya : “OMMO HÈLEM”, disamping stiker lainnya yang bertuliskan : “KÈRÈ TAPI KÈCÈ”.
Lihatlah !, ia bangga betul dengan hélem itu. Setiap melangkah, kaki-kakinya seakan melayang di udara. Setiap melayang, melebar, menebarlah senyumnya di angkasa. Wow !
‘Tak pusing lagi nih yé … ?, Wak Ommo tidak, apalagi Pak Singa ! Sudah lupa tuh …
Januari, 2011
Langganan:
Komentar (Atom)

