Kamis, 18 September 2014
MERAIH SURGA, MENJAUHI NERAKA
Mau, mau, mau, begitulah kebiasaan Ibu Siamang dari hari ke harinya. Ini mau, itu mau. Apa yang dilihat : mau. Apa yang dirasa : mau. Apa yang didengar : mau. Apa yang dipegang ? mau, mau, mau. Itulah sebabnya Ibu Siamang dipanggil 'Bu Mau, Mau ! oleh warga di Kampung Utan.
Diiringi Trio Betet : A'at, I'it, E'et, yang (katanya) sahabatnya, kemauan 'Bu Mau Mau ! semakin besar, semakin besar setiap saatnya. Bak pemandu sorak, mereka mendukung, mendorong, menyokong 'Bu Mau, Mau ! Untuk tetap mau, selalu mau, berusaha mau ! Keras, keras, keras mewujudkan semua kemauannya.
Bagaimana caranya ? Ya, terserah ia sajalah !, ya, suka-suka sajalah !
Terperangah !, Pak Siamang melihat tingkah istrinya. Terengah ! , ia terengah-engah membayar, terus membayar 'kemauan' istrinya, baik dengan hartanya, dayanya, jiwanya. Itulah sebabnya Pak Siamang dipanggil Pak Ngah !, Ngah ! kemudian.
C elaka, oh celaka terjadi ketika Amal Beramal, Ayo Beramal ! mewabah di Kampung Utan. Semua warga ingin, mau ! menjadi warga berpunya, yang beramal, ayo beramal ! Begitupun dengan 'Bu Mau, Mau !
Di kompori Trio Betet : A'at, I'it. E'et, 'Bu Mau, Mau ! rumasa menjadi yang berpunya, paling berpunya, betul-betul berpunya ! Sehingga wajar ! sewajarnya, pantas ! sepantasnya, harus ! seharusnya, ia beramal besar !, sebesar-besarnya, luas !, seluas-luasnya.
Beramal segini kurang, segitu kurang, “Ah, tambah, tambah lagi dong!”, 'Bu Mau, Mau ! merajuk suaminya. Terperangah, terengah !, Pak Ngah !, Ngah ! menimpalinya. “Tak ada uang !, tak ada lagi uang sayang ...!”, ia berusaha mengendalikan pengeluaran istrinya.
Ah, tak peduli !, 'Bu Mau Mau ! tak peduli !
Apalagi setelah Trio Betet : A'at, I'it. E'et menularkan wajah tak percaya ! Ah, sungguh tak percaya ! “Memang uangnya kemana ?” lancang Bu Mau, Mau ! menuduh suaminya rampok, perampokl !, merampok jerih-payahnya sendiri.
Ah, ribut !, tak mau ribut-ribut, Pak Ngah !, Ngah ! terengah ! Terengah marah. terengah kesal. terengah sebal. Ia terengah-engah menyerahkan seluruh tabungannya kepada istrinya. Ah, tabungan : ludas, dalam sekejap. Amal-beramal, ayo beramal !
Mengamat sikap heroik 'Bu Mau, Mau ! Tak kuranglah mulut manis pemandu sorak Trio Betet : A'at, I'it. E'et. Mereka memuji-muja membesar-besarkan hatinya,
“Hidup 'Bu Mau, Mau ! Pahlawan Amal-beramal, Ayo Beramal ! di Kampung Utan“, begitulah mereka menyoraki (katanya) sahabatnya.
C elaka oh celaka terjadi lagi ketika Sumbang Menyumbang, Mari Menyumbang mewabah di Kampung Utan. Menyumbang untuk kaum papa, tak berpunya ! Untuk membangun sekolah !, perpustakaan, meningkatkan mutu pendidikan !
Ah, tentu saja 'Bu Mau, Mau ! ingin, mau ! menyumbangkan segala-galanya.
Setelah menjadi Pahlawan Amal-beramal, Ayo Beramal ! 'Bu Mau, Mau ! bernapsu, sangat bernapsu, begitu bernapsu untuk menjadi Pahlawan Sumbang-menyumbang, Mari Menyumbang di Kampung Utan.
Betul !, ia ingin, mau ! menjadi duta pendidikan ! Itupun tak luput dari dukungan, dorongan, sokongan pemandu soraknya, Trio Betet : A'at, I'it, E'et.
Tabungan : ludas ! “Lha, mau menyumbang pakai apa ?”, Pak Ngah !, Ngah !, setengah sebal, setengah bertanya menyahuti kemauan istrinya. Tak percaya, tak berdaya, ia diperdaya istrinya.
Tabungan mereka ludas, masa depan merekapun : ludas, begitulah yang diyakininya.
"Dengan harta ! Dengan menjualnya ! Dengan mengobralnya !” sambar istrinya, cepat !, tepat ! menohok jantung hati suaminya. Ah ... Terperangah ! Pak Ngah !, Ngah ! terengah-engah, mengeluh, melenguh, mengaduh.
Satu harta dijual !, diobral ! satu bagian hatinya dicabut !, dirabut ! Seluruh harta dijual !, diobral ! seluruh bagian hatinya dicabut !, dirabut ! Harta amblas ! Hatinyapun amblas. Lha apalagi yang dimilikinya ?
Mengamat sikap heroik 'Bu Mau, Mau ! Bertambahlah mulut manis Trio Betet : A'at, I'it. E'et. Mereka memuji-muja membesar-besarkan hatinya nya.
“Hidup 'Bu Mau, Mau ! Pahlawan Sumbang-menyumbang, Mari Menyumbang, duta pendidikan di Kampung Utan” begitulah ketiganya menyoraki (katanya) sahabatnya.
C elaka oh celaka lagi-lagi terjadi ketika sedekah-bersedekah, mari sedekah, ayo bersedekah mewabah di Kampung Utan. Katanya untuk kebahagiaan dunia-akhirat, untuk meraih surga, menjauhi neraka.
Setelah memperoleh kebahagiaan dunia, menjadi Pahlawan Amal-beramal, Ayo Beramal ! dan Pahlawan Sumbang-menyumbang, Mari Menyumbang, 'Bu Mau, Mau ! ingin, mau ! memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Ia ingin, mau ! menjadi Pahlawan Sedekah-bersedekah, Mari Sedekah, Ayo Bersedekah ! Ia ingin, mau ! meraih surga, menjauhi neraka.
Itupun tak luput dari dukungan Trio Betet : A'at, I'it, E'et. yang juga ingin, mau ! mengarungi surga, menghindari neraka.
Mereka yakin, percaya, dengan terus menempeli 'Bu Mau, Mau !, yang mau, rela, bersedia berkorban lahir bathinnya, merekapun akan dapat berkahnya.
Tabungan : ludas, harta : amblas, lha mau menyumbang pakai apa lagi ? Sepertiga bertanya, sepertiga ternganga, sepertiga tak percaya, Pak Ngah !, Ngah ! menyahuti kemauan istrinya.
Tak lagi terperangah, terengah-engah, ia hanya cemas, bingung, menerka-nerka apa yang akan dilakukan istrinya.
“Menjual rumah ! Meninggalkan kampung ! Tinggal di hutan ! “, kata 'Bu Mau, Mau ! Ah, terperangah !, tak percaya !, tak hanya Pak Ngah !, Ngah !, tetapi juga Trio Betet : A'at, I'it, E'et yang (katanya) sahabatnya.
“Sebanding, itu sebanding, sangat sebanding ! Untuk meraih surga, menjauhi neraka, wajar ! sewajarnya, pantas ! sepantasnya, harus ! seharusnya, kita berkorban segala-galanya”, kata ''Bu Mau, Mau !, diamini Trio Betet : A'at, I'it, E'et, tetapi disumpahi suaminya : Pak Ngah !, Ngah !
Tabungan : ludas, harta : amblas, rumah : bablas, lha masa bisa meraih surga, menjauhi neraka ? bukannya malah meraih neraka, menjauhi surga ?
Mengamat sikap heroik Bu Mau, Mau ! Bertambah-tambahlah mulut manis Trio Betet : A'at, I'it. E'et. Mereka memuji-muja membesar-besarkan hatinya,
“Hidup 'Bu Mau, Mau ! Pahlawan Sedekah-bersedekah, Mari Sedekah, Ayo Bersedekah ! di Kampung Utan.
Hidup 'Bu Mau, Mau ! yang telah memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat, meraih surga menjauhi neraka. Hip .. hip .. hurah, hurah, hurah !” begitulah ketiganya menyoraki (katanya) sahabatnya.
C elaka oh celaka tak terjadi di hutan, dimana 'Bu Mau, Mau ! dan Pak Ngah !, Ngah ! tinggal. Tempat itu terlalu damai, terlalu segar, bebas polusi ! untuk dikenai wabah apapun.
Betul ! Bak surga ! Surga bagi Pak Ngah ! Ngah ! yang berbahagia bisa mendengar berisik suara burung, gemersik suara serangga, krincik suara air sungai, serintik suara tetesan lembut embun-embun di pagi hari. Terlalu surga untuk dipercaya !
Tetapi buat 'Bu Mau, Mau ! ? Ah, entahlah ...
Katanya ia telah kehilangan kemauannya, mungkin karena terlalu banyak, amat banyak, begitu banyak, yang tak bisa diperolehnya (harap maklum : tinggal di hutan sih).
Iapun telah kehilangan (katanya) para sahabatnya, Trio Bebek : A'at, I'it, E'et yang biasanya mendukung, mendorong, menyokongnya.
Lha, kemana sih mereka ?
Kini 'Bu Mau, Mau ! dipanggil Nenek Siamang, bukan Nyonya atau Ibu Siamang lagi, mungkin karena suka murung menyendiri, masam menutup diri. Wajahnya suka ditekuk-tekuk, tubuhnya dibungkuk-bungkuk.
Betul ! bak siamang yang rubuh tertimpa langit, tak mampu berdiri, karena tak ingin bangun lagi. Lha, kemana ya surga yang pernah diraihnya ?
30 April 2009