Kamis, 23 Januari 2014

Ngidam Kue dan Es Krim


“Perut Mak suka bergerak-gerak sendiri, lalu terasa panas sekali”

Beberapa bulan belakangan ini, Dokter Babon tak bisa tidur siang. Gara-garanya, pasien lamanya Mak Gajah selalu mengunjunginya, justru di jam istirahatnya.  Keluhannya selalu sama. Katanya ada naga di dalam perutnya. Naga itu suka menggeliat kalau kelaparan, lalu megap-megap kalau kehausan. “Perut Mak suka bergerak-gerak sendiri, lalu terasa panas sekali”

Untuk meyakinkan dokternya, ia kerap mengasongkan-asongkan perutnya, meminta-minta diperiksa : begah, buncit, besar, memang, seperti balon ! Sejujurnya, Dokter Babon lelah meyakinkan : "Tak ada mak !, tak mungkin ada !", tetapi Mak Gajah selalu bersikukuh dengan keyakinannya. "Ada !, pasti ada !", katanya.

Ditekan, diraba, dirasa-rasai, perut Mak Gajah sudah berulang kali. Begitupun di foto, dites di laboratorium, hasilnyapun nihil-nihil saja. Begahnya ?, memang !  Buncitnya ?, iya ! Besarnya ?, sudah pasti ! Tetapi isinya ?, tak ada apa-apanya !

"Tak ada mak, tak mungkin ada naganya !"

Setelah kembali, kembali lagi, berminggu-minggu lamanya, Dokter Babon mulai merasa letih sekali. Pasti ada cara untuk menghentikan kunjungannya ini. Tetapi apa ?, bagaimana caranya ? Mak Gajah sudah sepuh, sudah waktunya ia diurus anak-cucunya. Dimana mereka ?, kemana semua ?, katanya mereka hidup sendiri-sendiri, di lain kota. Kasihan Mak Gajah pasti sepi hari-harinya !

Sepi ?. Kesepian ! Ya, ampun mungkin inilah pangkal masalahnya. Mendengarkan ! Mungkin itulah obat satu-satunya ! Ya, sejak itulah  Dokter Babon menyediakan waktu untuk mendengar keluh-kesahnya,  terutama tentang naga di perutnya.

"Mau dioperasi ? Naganya dikeluarkan, mak ?", suatu hari Dokter Babon menggodanya sambil menakut-nakutinya dengan pisau operasi. Pucat pasilah wajahnya si Mak. "Tidak. Tidak perlu, nak !",  katanya.   "Cukup dikasih yang manis-manis sedikit. Makan, makanan !. Nanti naganya tidur, lelap !, tak’kan bangun-bangun lagi !", mata Mak Gajah  memandang penuh harap, cemas ! kepada dokternya.

Makan, makanan ?. Dokter Babon terbetik untuk berpikir-pikir, lalu membuka-buka kartu riwayat penyakit pasiennya. Penyakit gula !  Aha !, ternyata Mak Gajah pernah sakit gula. Di kartunya tertulis semua makanan yang menjadi pantangannya, terutama yang manis-manis. Seperti menemukan cahaya, Dokter Babon cepat-cepat membuat resep. "Tukar resep ini Mak !. Jangan di toko obat, tetapi di Toko Kue Andi Ayam !", begitu katanya.

Toko Kue Andi Ayam ? Siapa pula yang tidak mengenalnya ? Disanalah kue terenak, es krim terlezat dijual, satu-satunya di Kampung Utan. Bertahun-tahun Mak Gajah ingin mencicipinya, tetapi selalu terhalang penyakitnya. Tak percaya, mata Mak Gajah memandang takjub, bulat-bundar, berpendar-binar ke dokternya. Bulak-balik dibacanya resep itu, sunguh tak bisa dipercaya !

Bayangkan, disana tertulis : Coklat cap Nona 2 batang, Black Forest 2 potong, lalu Es Krim coklat, stroberi dan vanila 1 cup. Wow ! Air liurnya mengucur deras, tak sengaja ia bercipak-cipak, menelan ludah. Nyam, nyam, nyam. Lezat !

"Makan saja itu mak, cukup seminggu sekali !" Menahan tawa Dokter Babon menutup pembicaraan. Ia menarik napas lega, melirik pasiennya yang berbahagia. Sejak itulah, ahooi ... Dokter Babon bisa tidur siang lagi. Ia malah bisa mendengkur, panjang .. sekali, tiada satu pasienpun yang mengganggunya lagi.

"Ya, ya, ya, boleh kue, es krim, coklat Mak, tapi jangan terlalu banyak "

Mak Gajah masih suka datang, tetapi disaat jam prakteknya. Ia suka mengajukan pertanyaan seperti ini : “Nak dokter, boleh tidak Mak mengganti black forest dengan fruit cake, es krim dengan milk shake atau coklat bantangan dengan coklat berbintik kacang ? Mak sudah bosan nak !”

Biasanya Dokter Baboon menjawab : “ya, ya, ya.. boleh, tetapi jangan terlalu banyak, ya !”, pura-pura acuh Dokter Baboon menjawab, padahal  jauh di hatinya ia tertawa-tawa riang.   Ia sungguh gembira, karena Mak Gajah benar-benar bahagia. Sejak diperbolehkan menyantap makanan yang manis-manis, ia sehat lahir batinnya. Tak ada lagi keluhan tentang naga di perutnya, walaupun memang masih begah, buncit, besar,  seperti balon!

“Masih ada naga diperutnya, Mak ?”, ditanya begitu jangan-jangan ia menjawab : "Naga ?, naga apa ?, sudah lupa tuh ..!". Iya, betul !, seperti iklan di televisi (Mei 2005)

Rabu, 23 Mei 2012

'Menggarap' Gigi Mimi



Gigi Mimi Marmut goyang !, bergoyang-goyang. Duniapun ikut goyang !, bergoyang-goyang. Mimi Marmut menangis berlari kesana-kemari, berteriak, menjerit-jerit, membuat abah, emak, dan  saudaranya goyang !, bergoyang-goyang.

Rumah Mimi Marmut riuh, gaduh !, tetangganya resah, gelisah :  wah, wah, wah, “Ada apa ya ?”, “Kenapa ya ?”, “Mengapa ya ?”, “Aya naoon iyeuh ... ?”, Ki Emon Marmut terbangun linglung, bingung.

Huntu !”, “Huntu Neng Mimi”, Kang Eman Marmut,  mencoba menenangkan abahnya, tetapi  ah, terlambat, Ki Emon sudah mrungkut, terlelap lagi. Lalu Kang Eman Marmut bergegas, pergi ke rumah Mimi.

Horor ! Teror !, betul ! seperti itulah keadaannya disana. Mimi Marmut kejang mungkin karena takut, kebingungan ! Abah, emak, dan saudaranya kejang-kejang mungkin karena bingung, ketakutan ! Kang Eman Marmut bego, terlongo, “Rek dikumaha'keun nya' ?”

Berapa saat vakum ! bisu !, gagu !, kelu !  Sampai “Ah !”, bak tersengat lebah tiba-tiba Wak Maman Marmut, abah Mimi bangun dari kebingungannya.

“Cari benang, benang plastik ! Yang panjang, yang kuat, ayo, cepat, cepat, cepat !”, itulah yang dimintanya kepada Kang Eman Marmut yang masih saja terlongo bego.  Untunglah ia segera beranjak, sebelum dihardik majikannya.


Sepeninggal penjaga rumahnya, Wak Maman Marmut berbicara ini-itu dengan Mak Encim Marmut, istrinya. Semula istrinya iya, iya saja, tetapi kemudian resah, gelisah, lalu eh, marah-marah.  Suaminya tak mau kalah, ia memaksakan diri menerangkan ini-itu, itu-ini, sampai akhirnya istrinya : menyerah, pasrah. Duh, aduh, ada apa ya ?

Wah, ternyata gigi Mimi Marmut mau digarap ! Dicabut paksa dengan tarikan benang dan hentakan pintu, bukannya pergi ke dokter gigi. Katanya itu tehnik pengobatan masa lalu, ketika abah dan emaknya seumur Mimi Marmut dulu.

Ah, masa iya ?  Dengan pengobatan masa kini saja, pergi ke dokter gigi Mimi Marmut takut setengah mati, apalagi dengan pengobatan masa lalu yang tak jelas juntrungannya ! Keruan saja Mimi Marmut menolak, menjerit-jerit, menangis-nangis. Ia lebih dari takut, tak berdaya, kalut !

Wak Maman Marmut, abahnya berbicara ini-itu, panjang-lebar, panjang-lebar. Mak Encim Marmut, emaknya berbicara itu-ini, tinggi-rendah, tinggi-rendah. Mereka merayu mendayu-dayu, mereka memaksa mendesak-desak, mereka mengancam mengeram-ngeram, agar Mimi Marmut mau, mau, mau digarap giginya dengan cara mereka.

Alasannya macam-mcam : ke dokter gigi mahallah, jauhlah, ribetlah, nanti hujan besar, dokter giginya sakit, katanya : peralatannya kotor, bisa-bisa kena penyakit menular and so on, and so on, and so on. Akhirnya tak ada pilihan ! Mimi Marmut kalah, menyerah, pasrah ! ia  tak bisa lagi menyanggah, lelah, terlalu lelah.


T akut-takut Mimi Marmut duduk di kursi pesakitan yang disediakan Kang Eman Marmut.  Badannya bergetar, jiwanya menggelepar-gelepar. Ia berusaha cool, cool, cool, karena abahnya bilang begitu, karena emaknya bilang harus begitu. “Tidak apa-apa, tidak apa-apa, tidak sakit, tidak sakit !”, hibur mereka berkali-kali, tetapi jantung Mimi Marmut terus berlompat-lompatan, ia ingin buang air terus-terusan.

Mimi Mamut tercekik habis ketika ia dikat ! Bayangkan, Di-IKAT  erat-erat ! Ia mau menangis, atau menangis-nangis, dia ingin menjerit, atau menjerit-jerit. Tetapi air matanya kering, kerontang ! suaranya hilang, entah ke mana. Akhirnya pasrah tak pasrah Mimi Marmut menyerah diikat Kang Eman Marmut, disaksikan emak dan abahnya. Aduuh, duh, duh, duh.

Kenapa diikat ?, mengapa diikat ?, emak dan abahnya menjelaskan agar ia tak terjungkal, terlempar, terpelanting ke depan atau terbanting ke belakang, apapunlah ! Mimi Marmut tak mau mendengar apa-apa lagi, selain menyebut 99 nama dewa pelindungnya yang tak pernah dipahaminya : “Kemana mereka ?, kenapa disaat yang paling dibutuhkan mereka tak pernah ada ujudnya ?”

Mimi Marmut harus membuka mulutnya, lebar !, selebar-lebarnya, besar !, sebesar-besarnya. Gigi Mimi Marmut bergoyang, diikat benang semakin bergoyang-goyang. Mimi Mamut mau menangis, mau juga menjerit, atau malah nekat berteriak-teriak, tetapi silent is gold katanya, ya hiyalah diam-diam sajalah, memangnya mau apa ?

Kang Eman Marmut berusaha manis, semanis-manisnya, abahnya berusaha baik, sebaik-baiknya, emaknya berusaha sabar, sesabar-sabarnya, sementara Mimi sebal, sesebal-sebalnya.


Gigi Mimi Marmut sudah diikat, benangnya diulur, panjang, sepanjangnya. Benangnya dibawa keluar kamar tidurnya, lalu diulur ke  lorong kamarnya. Benangnya dibawa ke ruang makannya, lalu diulur ke ruang tamunya, akhirnya benangnya diikat ke pintu pagar  di halaman rumahnya. Haduh, haduh, haduh, ngapain juga sejauh itu sih ?

Abahnya tak menjawab, apalagi emaknya, dan jangan tanya Kang Eman Marmut  penjaga rumahnya. “Tiasa naon emang mah neng ?” Mimi Marmut sudah lebih dari tegang, atau setegang-tegangnya. Rasa-rasanya  ia sudah pingsan berkali-kali.  Ia sudah mati-hidup, mati-hidup, mati-hidup, keluar-masuk neraka puluhan kali.

99 Nama dewa pelindung tak lagi diucapkan, diganti oleh 99 nama ayahnya, kakeknya, buyutnya, atau oleh 99 nama anaknya, cucunya, cicitnya. Lha, memangnya Mimi Marmut tahu nama mereka ?  Ngarang sajalah ! Bukannya dia lagi tegang, jauh melebihi setegang-tegangnya ?

Dikejauhan, diluar kamar tidurnya Mimi Marmut mendengar aba-aba abahnya, lalu kerikit derik pintu pagar di halaman rumahnya, tentu saja diselingi suara berisik para tetangganya. Di kamar ia mendengar desah napas emaknya, diselingi batuk-batuk Kang Eman Marmut, penjaga malamnya.

Dihitungan ke-3, Mimi Marmut siap  merasakan sakit yang menjerat-erat, seperti naik pesawat yang harus mendarat darurat, nyungsep masuk ke neraka yang terdalam, atau  seperti pesawat ulang alik yang hilang kendali, Mimi Marmut terbang landas, terlontar lagi-lagi masuk ke neraka yang jauh, juah lebih dalam lagi.

Mimi Marmut terus berdoa, entah untuk siapa, pastinya bukan untuk 99 dewa pelindung beserta keluarganya lagi, karena ia sudah putus harapan dengan mereka. Ia kadung menganggap telinga mereka tak berdaun semua.

Aba-aba 1,2,3 berlalu sudah, begitupun dengan derik kerikit pintu pagar di halaman rumahnya. Mimi Marmut menunggu, terus menunggu, masih menunggu. Kapan nyungsepnya ?, kapan terlontarnya ?, mana nerakanya ?, lho kok tak sakit-sakit ya ?, sambil menutup mata  Mimi Marmut meraba-raba,menduga-duga. Detik demi detik rasanya sejam, seharian, semingguan, sebulanan, setahunan, seabadan, lha, lha, lha, kapan juga aku sampai di sana, merasakan sakit terhebatnya  ?

Penasaran Mimi Marmut membuka matanya, ia melihat emaknya tersenyum, abahnya tertawa, Kang Eman Marmut tak mengatakan apa-apa. Lalu abahnya memperlihatkan gigi yang baru saja copot dari gerahamnya. Lha kok tak terasa ?  Tetangganya berhamburan masuk ke kamar tidurnya, bertanya ini-itu yang tak dimengertinya. Hanya satu pertanyaan yang dipahaminya tetapi tak ingin dijawabnya : “Gimana ?”, “Sakit engga ?”

Betul ! Mimi Marmut ingin merahasiakan jawabannya. Bisa saja pengobatan lama : mencabut gigi dengan tarikan benang dan hentakan pintu tidak menyakiti gerahamnya, tetapi sungguh menyakiti hatinya. Merasa ditipu, tertipu, ia mutung-pundung, merajuk- mogok, sembunyi di balik pintu. Sampai kapan ? Lihat saja nanti ... 26/02/2009